
WISATAKITAIDN. Jika Anda berkunjung ke Distrik Pingxi di Taiwan, tepatnya ke Shifen Old Street, ada satu pemandangan yang hampir pasti selalu dijumpai, lentera-lentera berwarna cerah yang perlahan terbang ke langit. Suasana semakin magis ketika senja tiba, saat cahaya redup berpadu dengan sinar api kecil dari dalam lentera. Bagi wisatawan, ini adalah momen yang penuh keindahan. Namun di balik pesonanya, lentera udara Shifen menyimpan kisah sejarah panjang, dari sekadar sinyal keselamatan hingga kini menjadi warisan budaya sekaligus sumber penghidupan masyarakat.
Asal Usul Lentera Udara
Tradisi menerbangkan lentera udara di Shifen diyakini sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Sejarah mencatat bahwa di abad ke-19, kawasan pegunungan Pingxi kerap diserang kelompok bandit. Untuk menghindari penjarahan, penduduk desa biasanya melarikan diri ke perbukitan dan bersembunyi. Setelah keadaan dirasa aman, para tetua desa menerbangkan lentera sebagai tanda bagi warga lain bahwa situasi sudah terkendali.
Lentera saat itu berfungsi layaknya “kode komunikasi visual”. Begitu lentera terlihat dari kejauhan, para penduduk tahu bahwa mereka bisa kembali ke rumah dengan selamat. Dari sinilah lentera udara di Shifen mulai mendapatkan peran simbolis, bukan hanya cahaya penanda, tetapi juga pertanda keselamatan dan harapan.
Namun, jika ditarik lebih jauh lagi, sejarah penggunaan lentera udara di Tiongkok sudah muncul sejak abad ke-3 sebelum Masehi. Salah satu catatan terkenal menyebut Zhuge Liang, seorang penasihat militer di era Tiga Kerajaan, memanfaatkan lentera udara sebagai sinyal perang. Bedanya, saat itu lentera digunakan untuk strategi militer, bukan tradisi doa. Sedangkan kebiasaan menerbangkan lentera untuk menyampaikan harapan diyakini berakar dari Provinsi Fujian, yang kemudian terbawa oleh leluhur masyarakat Pingxi.
Dari Sinyal Menjadi Doa
Seiring berjalannya waktu, fungsi lentera udara bergeser. Dari yang awalnya sebagai tanda keamanan, kini ia dipakai sebagai medium doa dan harapan. Saat diluncurkan, setiap orang biasanya menuliskan permintaan atau cita-cita di permukaan kertas lentera. Ada yang berharap rezeki lancar, kesehatan panjang, atau jodoh yang baik.
Momen menerbangkan lentera pun sering kali menjadi pengalaman spiritual tersendiri. Banyak yang percaya bahwa semakin tinggi lentera terbang, semakin besar pula kemungkinan doa mereka dikabulkan. Tak heran, acara menerbangkan lentera selalu penuh dengan suasana haru dan antusiasme, baik bagi warga lokal maupun turis.
Lentera sebagai Penghidupan Warga
Kini, Shifen Old Street menjelma sebagai salah satu destinasi wisata paling populer di Taiwan. Jalur kereta tua yang masih aktif menjadi latar unik bagi toko-toko yang berjejer di sepanjang jalan. Hampir semua toko menawarkan jasa membuat dan menerbangkan lentera.
Harga lentera bervariasi, mulai dari sekitar NTD 150–250 (Rp80.000–134.000) untuk ukuran standar, hingga NTD 250–350 (Rp134.000–187.000) untuk ukuran besar. Para penjual biasanya membantu wisatawan menuliskan doa, memotret, hingga mengarahkan saat lentera siap diterbangkan. Tak jarang, mereka menambahkan sedikit hiburan atau candaan agar pengunjung merasa lebih akrab.
Pada hari biasa, seorang penjual bisa melepas antara 50 hingga 100 lentera. Namun saat musim liburan atau festival, jumlah itu bisa melonjak tajam hingga lebih dari 500 lentera per hari. Dari sinilah terlihat bahwa lentera udara bukan hanya sekadar atraksi budaya, tetapi juga menjadi sumber ekonomi yang menopang kehidupan banyak keluarga di Shifen.
Tantangan Lingkungan
Meski indah, tradisi ini bukan tanpa kritik. Lentera yang sudah terbang tentu akan jatuh kembali ke bumi setelah apinya padam. Jika jatuh di sungai, hutan, atau atap rumah, lentera dapat menimbulkan masalah lingkungan. Sisa kerangka kawat, plastik, atau pewarna kimia bisa menjadi sampah yang sulit terurai, bahkan membahayakan satwa.
Kesadaran inilah yang kemudian mendorong warga dan pemerintah setempat untuk melakukan inovasi. Kini, banyak produsen lentera beralih ke bahan yang lebih ramah lingkungan, seperti kerangka bambu dan kertas minyak alami. Pemerintah juga mendorong program pengumpulan kembali sisa lentera serta memberikan insentif bagi produsen yang mau berpartisipasi dalam praktik daur ulang.
Makna Lentera bagi Shifen
Lebih dari sekadar atraksi wisata, lentera udara kini menjadi simbol identitas masyarakat Shifen. Tradisi ini merekatkan sejarah, spiritualitas, sekaligus keberlangsungan ekonomi lokal. Lentera adalah bukti bagaimana sebuah kebiasaan sederhana dapat berubah menjadi warisan budaya yang terus hidup dan berkembang.
Bagi wisatawan, menerbangkan lentera di Shifen bukan hanya pengalaman berfoto atau hiburan semata, melainkan juga kesempatan untuk merasakan kedekatan dengan masyarakat lokal dan memahami makna budaya mereka.
Penutup
Lentera udara di Shifen adalah contoh bagaimana budaya dan sejarah bisa menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Dari awalnya sebagai tanda keselamatan di masa penuh ancaman, ia berevolusi menjadi medium doa yang sarat makna, sekaligus sumber penghidupan bagi warga.
Tradisi ini mengajarkan bahwa sesuatu yang sederhana selembar kertas, bingkai bambu, dan api kecil dapat memiliki arti besar bagi sebuah komunitas. Meski menghadapi tantangan lingkungan, upaya perbaikan terus dilakukan agar lentera tetap bisa menjadi cahaya harapan, tanpa merugikan alam.
Dan setiap kali lentera itu terbang ke langit Shifen, ia membawa pesan universal, harapan manusia selalu ingin menjulang, setinggi langit yang luas.