
WISATAKITAIDN. Baru-baru ini, masyarakat dihebohkan dengan kabar kemunculan sebuah “gunung” yang tiba-tiba muncul di wilayah Jawa Tengah. Video dan foto yang beredar menunjukkan tonjolan tanah besar seperti bukit kecil, berdiri mencolok di antara lahan datar. Warganet pun ramai-ramai menyebutnya sebagai “gunung baru yang lahir dari perut bumi”.
Namun, seiring kabar itu menyebar luas dan rasa penasaran memuncak, para ahli geologi pun akhirnya turun tangan dan membongkar kenyataan di balik fenomena tersebut.
Fenomena Aneh di Kendal Bukit Dadakan yang Viral
Lokasi yang menjadi pusat perhatian ini terletak di Kendal, Jawa Tengah. Dalam rekaman warga, terlihat gundukan tanah yang sebelumnya tidak ada, kini menjulang dengan bentuk menyerupai sebuah kubah. Spontan saja, muncul berbagai spekulasi dari warga sekitar maupun pengguna media sosial.
Mulai dari dugaan aktivitas vulkanik, gempa bumi, hingga mitos-mitos lokal soal “tanah hidup” kembali bermunculan. Tak sedikit yang menyebutnya sebagai “tanda alam” atau “isyarat geologis besar”.
Tapi apakah benar itu pertanda lahirnya gunung baru?
Ahli Geologi Buka Suara, Gunung Tidak Muncul Dalam Semalam
Prof. Irwan Meilano, seorang pakar geologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), memberikan penjelasan ilmiah yang mematahkan seluruh dugaan liar itu. Ia menegaskan bahwa apa yang terlihat di Kendal bukan gunung dalam pengertian geologi.
Menurutnya, gunung terbentuk melalui proses yang amat panjang, sering kali membutuhkan jutaan tahun. Gunung tidak bisa tiba-tiba muncul begitu saja dalam hitungan hari atau pekan.
“Kalau ada tonjolan tanah naik secara mendadak, itu kemungkinan besar karena tekanan dari dalam tanah, seperti gas, air tanah, atau lumpur,” ujar Prof. Irwan.
Jadi, Apa Itu Sebenarnya?
Fenomena seperti ini dalam istilah ilmiah disebut uplift lokal, yaitu pengangkatan tanah karena dorongan dari bawah permukaan. Penyebabnya bisa beragam mulai dari tekanan air yang terperangkap, pergerakan lumpur, atau bahkan gelembung gas yang tak terlihat.
Yang pasti, tidak ada indikasi adanya aktivitas magma atau tektonik besar yang bisa membentuk gunung. Ini hanyalah reaksi alamiah dari tanah yang “bergerak” karena tekanan tertentu.
Mengapa Masyarakat Cepat Mengaitkan dengan “Gunung”?
Di era digital saat ini, narasi dramatis memang cepat menjual. Istilah “gunung baru” terdengar lebih heboh dan memancing rasa penasaran dibanding istilah teknis seperti “tonjolan geoteknik”. Tak heran bila video itu dengan cepat viral dan menimbulkan keresahan.
Padahal, menurut para pakar, fenomena seperti ini tidak selalu berbahaya, meski tetap perlu diteliti lebih lanjut. Pemerintah daerah dan instansi terkait pun didorong untuk melakukan investigasi lapangan agar masyarakat mendapat kepastian, bukan sekadar spekulasi.
Menyikapi Fenomena Alam dengan Bijak
Alih-alih panik atau menyebarkan kabar yang belum pasti, peristiwa ini seharusnya menjadi momentum untuk belajar memahami alam. Fenomena alam seperti uplift tanah bisa terjadi di banyak tempat, dan bukan berarti selalu mengarah ke bencana.
Yang terpenting, masyarakat perlu diberikan informasi yang benar agar tidak termakan hoaks atau ketakutan yang tidak berdasar. Karena pada akhirnya, alam memang punya cara unik untuk bicara dan tugas kita adalah mendengarkannya dengan akal sehat.